Sabtu, 09 Januari 2016

Urban Legend In Kediri

1. Ringin Sirah 

                                                 Hasil gambar untuk ringin sirah kediri
Bila kamu pernah mengunjungi Kota Kediri, pasti pernah melintasi kawasan Ringin Sirah. Kawasan ini terletak di pusat kota, persis di perempatan Jl. Hayam Wuruk - Jl. Joyoboyo. Tepatnya di sebelah selatan Kediri Mall/Sri Ratu. Di lokasi ini, terdapat sebuah lapangan yang cukup luas (kini, lapangan tersebut oleh warga Kota Kediri sering disebut Lapangan Joyoboyo), dan di lapangan itu terdapat pohon beringin dengan ukuran cukup besar (sampai sekarang ini pohon beringinnya masih ada dan bisa dilihat). Meski berada dipusat keramaian, persis di depan Joyoboyo Trade Centre, namun lapangan ini menyimpan sebuah misteri ,terkait legenda Ringin Sirah.

Bukan tanpa sebab kawasan itu bernama Ringin Sirah, karena menurut keyakinan turun-temurun warga kota maupun warga kabupaten Kediri, lapangan itu memang terkait erat dengan sebuah kisah tentang "sirah" atau kepala.

Menurut cerita "wong tuwo-tuwo mbiyen" (orang tua-tua dahulu), di lapangan itulah makam seorang tokoh legendaris Kediri berjuluk "Maling Gentiri". Maling Gentiri memang sosok maling budiman di zaman Kediri kuno. Maling Gentiri merupakan tokoh pencuri yang memiliki kesaktian "sundul langit" alias sakti mandraguna. Tapi karir Maling Gentiri dibidang mencuri, bukan semata-mata demi kepentingannya sendiri, melainkan hasilnya dibagikan pada warga miskin. Ia merampok harta orang kaya, lalu diberikan pada orang "kere" (miskin).

Tentunya kiprah Maling Gentiri ini disukai oleh orang miskin dan dibenci orang kaya (konglomerat) waktu itu. Para konglomerat berupaya sekuat tenaga menangkap hidup-hidup atau mati Maling Gentiri. Merekapun menjadikan Maling Gentiri sebagai buronan yang paling dicari. Akan tetapi kesaktian Maling Gentiri membuat para konglomerat itu "keder" (takut). Karena meskipun Maling Gentiri berkali-kali tertangkap, tidak pernah bisa dibunuh/mati. Maklumlah saja, Maling Gentiri memiliki aji pancasona, sebuah ilmu kadigdayan yang memungkinkan pemiliknya hidup kembali meski berkali-kali dibunuh, dengan syarat raganya tetap menyatu dan darahnya tidak menyentuh tanah.

Singkat cerita, para konglomerat yang ingin menamatkan riwayat Maling Gentiri, akhirnya menemukan titik kelemahan sang pendekar. Ketika Maling Gentiri tertangkap untuk kesekian kalinya, tubuh pencuri budiman itu lalu dipotong-potong dan dikubur terpisah di beberapa tempat untuk menghindari dia hidup kembali. Dan bagian kepalanya itulah, yang diyakini warga Kediri dikubur di kawasan Lapangan Joyoboyo dibawah pohon beringin. Sehingga kawasan ini disebut Ringinsirah. Ringin berarti Pohon Beringin, sedangkan Sirah adalah kepala manusia.

Sampai sekarang ini pun, kawasan itu masih dipercaya sebagai kawasan yang "wingit" (angker). Sehingga meski telah bersentuhan dengan suasana modern lingkungan sekitarnya, tetapi kawasan itu tetap dikeramatkan oleh sebagian warga Kediri dan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Iulah sedikit cerita Kediri kuno mengenai Ringin Sirah yang mulai asing bagi kita sebagai warga Kediri.


_Diambil dari beberapa sumber_

2.Buaya Putih Di Sungai Brantas 

                                                      Hasil gambar untuk buaya putih di brantas
Cerita tutur tentang keberadaan buaya putih di aliran Sungai Brantas sejak zaman kerajaan kuno Kediri hingga sekarang masih saja menjadi misteri yang tak terpecahkan. Sebab sungai yang digunakan sebagai lalu lintas air sejak masa Empu Sindok pada masa Mataram Hindu selalu minta korban nyawa manusia.

Berulang kali orang tiba-tiba kalap di sungai yang pernah ditumbali oleh Mpu Baradah saat memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua yakni Kerajaan Panjalu dan Jenggala sekitar tahun 1009.

Dan yang terakhir, yang menjadi 'tumbal' Sungai Brantas Kediri adalah dua bocah bernama Deny Kurniawan (12) dan Dwi (11), warga Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota, Kediri pada 20 September 2011 lalu. Keduanya tiba-tiba terbawa arus di areal pembangunan proyek Jembatan Brawijaya Kediri yang difungsikan sebagai pengganti jembatan lama yang pada 18 Maret nanti berusia 144 tahun.

Cerita tentang penunggu buaya putih ini juga banyak diceritakan di catatan Belanda ketika awal-awal pembangunan proyek jembatan lama Kediri sekitar tahun 1836-876.

"Dalam catatan Belanda memang disebutkan bahwa ada buaya putih penunggu jembatan yang dibangun oleh kolonial Belanda," kata Olivier Johanes, pengamat sejarah Indonesia dari Belanda dalam tulisan yang di tulisnya kepada grup Pelestari Sejarah dan Budaya Kediri (PASAK).

Tidak hanya di sekitar jembatan lama Kediri, ada yang lebih misterius lagi soal buaya putih yang berada di aliran Sungai Brantas wilayah Kecamatan Kras Kabupaten Kediri yang dikenal dengan sebutan 'Badug Seketi'.

Badug Seketi dianggap tempat yang sangat wingit dan angker di daerah Kecamatan Kras. Dari cerita tutur masyarakat setempat, si buaya putih dulu awalnya bersahabat dengan penduduk sekitar. Setiap kali penduduk hajatan dan minta tolong kepada si buaya putih kebutuhan hajatan itu selalu disediakan.

Kebutuhan yang disediakan itu antara lain, peralatan dapur seperti piring, sendok dan peralatan pecah belah yang lainnya.

"Cerita kerjasama antara penghuni Sungai Brantas dengan masyarakat itu terjadi hingga sekitar tahun 1970 an. Karena keserakahan, penduduk yang sengaja menyembunyikan peralatan yang dipinjamkan tersebut, berakhir pulalah hubungan antara si buaya putih dengan warga sekitar," kata Abdul Kholik warga Desa Seketi Kecamatan Kras, pada www.merdeka.com, Sabtu (2/3).

3.Pohon Misteri di Desa Joho Kabupaten Kediri

                           Hasil gambar untuk misteri pohon joho

Kediri - Jatim - Banyak cerita misteri ketika pohon Bulu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Joho, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri roboh kemudian berdiri kembali. Diantaranya dialami oleh penggergaji pohon ratusan tahun itu. Saat itu Roni bermimpi didatangi oleh seorang pria tua berjenggot. Dia mengenakan pakaian serba putih. Pria itu berkata, Le, saya mau kembali lagi,” ujar Roni warga setempat menirukan cerita tukang gergaji kayu.

Tukang gergaji pohon Bulu di Makam Joho terdiri empat orang. Mereka berasal dari daerah Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Keempatnya sengaja dipanggil oleh pengurus makam untuk menggerganji pohon yang tumbang.

Selama menggerjaji, keempatnya mengaku, sering mengalami hal-hal ganjil. Diantaranya, mesin gergaji kerap macet, dan mata gergajinya putus. Selain itu, ada salah seorang tukang gerganji yang tiba-tiba terlempar dan terjatuh hingga merintih kesakitan. Para penggergaji kini merasa ketakutan. Sebab, kayu dari Pohon Bulu sudah dipotong-potong dan dijual. Masyarakat sekitar berniat menggunakan hasil penjualan kayu senilai Rp 2,5 juta untuk memperbaiki kerusakan pagar di sekeliling makam akibat tertimpa pohon.

Pengalaman misteri lainnya dialami oleh Zaenuri, warga setempat yang kini tinggal di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Malam hari setelah pohon Bulu tumbang, dia mengaku, tidak dapat tidur. Pikirannya terus tertuju ke pohon Bulu. “Makam bapak saya Kasmuji dan kerabat saya pak Mujito ikut terangkat bersama robohnya Pohon Bulu. Kerangkanya terangkat oleh akar pohon. Saya tidak tidur. Di rumah rasanya panas sekali. Entah kenapa pikiran saya terus tertuju ke pohon itu,” kenang Zaenuri. Pohon Bulu yang roboh akibat tersapu angin kini kembali berdiri kokoh. Masyarakat sekitar menganggap kejadian itu sangat aneh. Sejak pohon itu berdiri, makam Desa Joho tidak pernah lengang. Banyak masyarakat berdatangan.

Bukan hanya dari warga setempat, tetapi masyarakat yang hendak pergi ke Monumen Simpang Lima (SLG) Kediri berbelok tujuan. Maklum, lokasi makam tidak terpaut jauh dari monumen Simpang Lima Gumul. Selain itu, para pelajar yang masih mengenakan pakaian juga datang untuk melihat.

Masyarakat setempat membuka lahan parkir baru di sekitar makam. Namun, mereka tidak memasang tarif parkir. Masyarakat hanya menyediakan kaleng yang ditaruh ditepi jalan. Sehingga pendatang mengisi kotak dengan sesuka hatinya.

4.MISTERI FARIDA


                                                     Hasil gambar untuk ngadiluwih kediri
Bagi masyarakat Ds. Badal Pandean Kec Ngadiluwih KEDIRI, tentunya tidak asing lagi dengan sosok cewek cantik yang bernama Farida. Sosok cewek cantik yang anggun nan seksi dan bersikap ramah dan santun, sering memikat hati kaum pemuda yang memandangnya. pernah suatu ketika seorang pemuda berjumpa di jalan, diminta untuk mengantarkan pulang ke rumahnya, dengan rasa bangga dan hati berbunga – bunga, di antarkanlah sang cewek cantik itu pulang kerumahnya. namun sesampai di rumahnya alangkah terkejutnya pemuda itu setelah menyadari rumahnya Farida bukanlah layaknya rumah manusia pada umumnya. namun lokasi pemakaman umum (kuburan Jaten). Dan kejadian yang demikian itu tidak terjadi hanya sekali maupun dua kali. Bahkan menurut kesaksian masyarakat desa Badal pernah juga rombongan keluarga dari Jakarta datang ke desa Badal mencari Farida dan keluarganya dengan maksud akan melamar Farida. karena anak lelakinya kenal Farida di Jakarta, dan diberi alamat lengkap oleh Farida. Alangkah terkejutnya setelah rombongan keluarga dari Jakarta itu sesampai di desa Badal dan diberi tahu dan diberi pengertian warga desa setempat bahwa Farida bukanlah bangsa manusia, namun sosok makluk halus yang menghuni lokasi pemakaman umum (kuburan Jaten). Farida juga sering menampakkan diri naik vespa warna putih, terkadang naik mobil sedan warna putih, berpakaian warna putih, pakai ikat rambut (pita) putih, namun bagi masyarakat setempat sudah hafal kalau itu Farida. beberapa warga desa Badal pernah juga tiba – tiba diantar bahan material bangunan rumah, maupun perkakas rumahtangga, sehubungan tidak merasa membeli dan setelah di cek pada nota bon yang membelikan adalah Farida, akirnya ya takut juga dan tidak diterima. meskipun telah dibayar lunas di tokonya, oleh Farida.
Karena keanehan itulah pernah juga sebuah stasiun TV swasta datang ingin meliput lokasinya, namun aneh bin ajaib karena gambar lokasinya sama sekali tidak bisa nampak, yang nampak dilayar hanya hitam gelap. Juga pernah dari media cetak mau meliput di lokasi itu, namun karena terjadi sesuatu hal, diurungkan niatnya, daripada berdampak bahaya bagi yang meliputnya. didasari ketertarikan terhadap kejadian yang aneh itu, dan juga atas permintaan dari para pembaca Tabloid GLOBAL PLUS yang telah menghubungi redaksi, Team mysteri dari GLOBAL PLUS mendatangi lokasi yang di pandu langsung oleh Whisnu murti yang sudah terbiasa memasuki dunia gaib, untuk mengungkap kebenarannya. setelah Whisnu murti memasuki alam gaib menuturkan bahwa di tempat itu memang ada sosok cewek yang lumayan cakep yang biasa mengaku bernama Farida. namun sesungguhnya nama aslinya bukan Farida. tetapi atas permintaan Farida agar nama aslinya itu dirahasiakan. Dia menempati pada sebuah rumah tua yang cukup besar dan terkesan agak angker bersama sosok lelaki tua yang diakui sebagai kakeknya yang mengasuh Farida. sosok lelaki tua itu mengaku bernama Wongso dan Farida dulu berasal dari wilayah Tawangmangu Jawa tengah. dan saat ini juga sering berdomisili di Tawangmangu Jawa tengah.
Menurut pengakuan Farida kepada Whisnu murti, dia juga tidak pernah berbuat jahat atau mencelakakan manusia, bahkan dia juga biasa niat menolong manusia membelikan sesuatu kepada manusia yang dikehendakinya. meskipun pada akhirnya manusianya yang pada takut karena salah memahaminya. Dan sekarang Farida juga sudah jarang menampakkan diri kepada manusia daripada nanti dianggap menyesatkan manusia.
Kenapa roh gaib yang berdomisili pada alam gaib kok bisa nampak dilihat oleh mata telanjang manusia, bahkan bisa bergaul dengan manusia. menurut Whisnu murti itu hal yang wajar dan biasa dilakukan oleh roh yang berdomisili pada alam gaib yang dimensinya paling dekat dengan alamnya manusia. meskipun dia tidak mempunyai materi atau badan daging layaknya manusia. Roh yang biasanya masih suka menampakkan diri kepada manusia, juga didasari tendensi yang berbeda – beda pula. Ada yang didasari niat jahat kepada manusia, karena pada dasarnya pribadinya memang jahat, ada juga yang sebatas ingin bergaul dengan manusia. namun sehubungan bukan manusia dan tidak mempunyai badan daging layaknya manusia, kebanyakan manusia yang diajak bergaul ngacir bulu kuduknya mendingan kabur. menurut Whisnu murti yang disebut alam gaib itu sebenarnya juga terbagi dari beberapa macam tingkatan. berdasarkan tingkatan itu penghuninya juga berbeda jenis maupun karakter serta kemampuannya. sehingga tidaklah benar jika ada orang yang komentar roh yang tidak kelihatan oleh mata telanjang itu semuanya pasti setan. karena Malaekat juga tidak bisa dilihat oleh mata telanjang manusia, apakah itu setan? bahkan gusti Allah juga tidak nampak oleh mata telanjang manusia, apakah itu juga setan? disinilah yang kadang belum dipahami sepenuhnya oleh sebagian orang. sehingga terjadi salah penafsiran.
Pada lokasi tempat pemakaman umum (kuburan Jaten) memang nampak agak mistis apalagi masih adanya pohon – pohon besar yang terkesan serem kayak hutan rimba. Namun pada sisilain alam ditempat itu juga ditempati roh yang mengaku namanya Wongso yang juga memelihara berbagai hewan yang mengerikan. namun kita sebagai manusia jangan salah arti menafsiri suatu lokasi ataupun tempat yang mungkin dianggap angker, ini yang menguasai mbah A atau mbah B. karena dimanapun tempat di atas bumi di bawah langit dan dimanapun juga, yang kelihatan oleh mata maupun yang tidak kelihatan oleh mata manusia adalah miliknya Allah dan dikuasai oleh Allah yang telah berkarya dan menciptakannya. disinilah membuktikan bahwa Allah itu memang MAHA KUASA. Yang kekuasaannya susah diukur dengan kemampuan manusia. 

5.Misteri Penemuan Patung Lembu Suro

                                                  Hasil gambar untuk misteri lembu suro gunung kelud

Gunung kelud seakan tidak ada habisnya menggemparkan masyarakat dan kali ini sebuah misteri baru kembali terjadi pada gunung yang meletus pada  hari jumat-14-02-2014 yang lalu. Setelah erupsi gunung kelud yang berimbas pada kota - kota besar di jawa, Kali ini gunung kelud memunculkan sebuah fenomena misteri yaitu munculnya sebuah patung yang diyakini patung tesebut adalah gambaran dari penunggu gunung kelud yaitu Patung Lembu Suro.
Patung ini ditemukan di sebuah wilayah di gunung kelud yang menurut kabar berada di lereng gunung kerinci atau orang blitar menyebutnya denga gunung gedang yaitu semping dari gunung kelud bagian blitar. Menurut legenda masarakat sekitar gunung kelud Lembu Suro Dan Mahesa Suro merupakan penunggu gunung kelud. Untuk sejarah tentang gunung kelud silahkan anda cari di Google. Dibawah ini adalah gambar patung lembu suro yang muncul setelah erupsi gunung kelud kemarin

Setelah pemberitaan yang menghebohkan tersebut kami datang sendiri untuk memastikan kebenaran berita ini. Memang benar adanya patung yang menyerupai kerbau ini dan berada tepat di lereng gunung kelud bagian blitar tepatnya di gunung gedang, akan tetapi setelah kami mendekati patung ternyata patung ini bukanlah peninggalan kerajaan masa lalu. Patung yang diyakini oleh warga sekitar sebagai patung lembu suro ini diperkirakan oleh warga sekitar sudah ada sejak tahun 1980 an yang menurut mereka patung ini dibuat oleh perhutani untuk membatasi area atau kawasan yang pohonya boleh di tebang dan yang tidak. Mungkin sebelum erupsi kemarin jarang orang yang datang kesini atau mungkin patung ini tertutup oleh semak belukar akan tetapi yang jelas patung lembu suro ini adalah murni buatan manusia modern.  Dilokasi memang ada dua patung dan patung yang satunya berada dibawah lokasi patung lembusuro yang tebesar.
Tapi bila anda memang ingin mengunjungi lokasi ini anda akan disuguhi pemandangan indah bekas erupsi gunung kelud pada bulan februari kemarin. Percaya tida percaya patung ini merupakan batas antara hutan yang terkena abu panas gunung kelud dengan yang tidak terkena abu panas. Di bagian sebelah kanan patung dilihat dari foto patung di atas adalah yang tidak terkena awan atau abu panas jadi pepohonannya masih terlihat segar,  Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar di bawah ini.

Perbedaanyang sangat jelas sekali. Dibagian pojok kanan atas dari foto di atas adalah gunung kelud. Jika anda naik sedikit dari lokasi ini anda akan melihat pemandangan yang sangat luar biasa dari bekas letusan gunung kelud kemarin. Untuk mencapai lokasi ini disarankan untuk tidak membawa mobil karena mobil hanya bisa masuk sampai tengah jalan saja. Untuk meneruskan ke atas anda perlu mengguanakan kendaraan roda 2. Dan pastinya karena ini wisata dadakan harga yang ditawarkan oleh tukang ojek dadakan untuk mengantar sampai atas lokasi juga lumayan mahal. kami sedikit mengorek informasi untuk tarif ojeknya adalah sekitar 50 rb per orang pulang pergi. Tinggal tergantung bagaimana anda pintar - pintar menawar

Sepakbola

Sejarah PERSIK Kediri

                          Hasil gambar untuk persik kediri

Dalam catatan kearsipan pengurus, Persatuan Sepakbola Indonesia Kediri (Persik) berdiri pada tahun 1950, pada tanggal 9 Mei. Sebagai pendiri adalah Bupati Kediri saat itu, R Muhammad Machin. Karena saat itu Kediri masih berupa kabupaten, tidak ada pemisahan wilayah seperti sekarang, kabupaten dan kota. Dibantu Kusni dan Liem Giok Djie, yang dilakukan Machin pertama kali adalah merancang bendera tim yang tersusun dari dua warna berbeda. Bagian atas berwarna merah dan bawahnya hitam dengan tulisan PERSIK di tengah-tengah dua warna berbeda itu. Sebagai tim perserikatan yang terdaftar di PSSI, Persik memiliki beberapa klub anggota, diantaranya PSAD, POP, Dhoho, Radio, dan Indonesia Muda (IM). Dalam tiga dekade (1960 hingga 1990-an) prestasi Persik belumlah menonjol bahkan di tingkat nasional pun masih kalah dibandingkan dengan “saudara mudanya” Persedikab Kabupaten Kediri yang pada era 1990-an tercatat dua kali mengikuti kompetisi Ligina. Namun sejak ditangani Walikota Drs. H. A. Maschut, Persik menunjukkan perubahan. Mengawali debutnya di pentas nasional, Persik merekrut mantan pelatih Tim Nasional PSSI Pra Piala Dunia (PPD) 1986, Sinyo Aliandoe, untuk menangani klub kebanggaan warga Kota Kediri itu dalam Kompetisi Divisi I periode 2000-2001. Di bawah tangan dingin Om Sinyo itulah, para pemain Persik yang merupakan pemain-pemain dari Kediri dan sekitarnya itu mulai diperkenalkan dengan sistem sepakbola modern. Namun hanya dalam waktu satu tahun Om Sinyo berlabuh di Kota Kediri . Setelah itu Persik pun resmi ditangani mantan pemain Timnas PSSI, Jaya Hartono, yang sebelumnya hanyalah asisten Om Sinyo.
Sementara untuk semua urusan baik di dalam maupun di luar stadion, H. A. Maschut meminta bantuan putra menantunya, Iwan Budianto, yang beberapa tahun sebelumnya menangani Arema Malang. Di tangan Iwan-Jaya itulah, tim berjuluk “Macan Putih” itu unjuk gigi dengan berhasil menyabet gelar juara Kompetisi Divisi I PSSI tahun 2002. Gelar tersebut sekaligus mengantarkan tim kebanggaan warga Kota Kediri itu “naik kelas” sebagai kontestan Divisi Utama dalam Ligina untuk musim kompetisi IX/2003.
Sejak kompetisi itu digelar pada bulan Januari 2003, Persik sudah mengklaim dirinya sebagai tim dari daerah yang tak sekadar “numpang lewat”. Tekad itu terpatri di dalam lubuk sanubari para pemain, sehingga dengan usaha keras dan penuh dramatis, Persik mampu mencuri perhatian publik bola di Tanah Air setelah berhasil memboyong Piala Presiden setelah mengukuhkan dirinya sebagai juara Ligina IX/2003.
Persik mampu memupuskan harapan tim-tim besar, seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang yang saat itu sangat berambisi menjadi kampiun dalam kompetisi paling bergengsi di Jagad Nusantara ini. Piala Presiden itu kembali berlabuh di Kota Kediri setelah Persik berhasil menjuarai kompetisi Divisi Utama Ligina XII/2006 setelah menyudahi perlawanan sengit PSIS Semarang dengan skor 1-0 di partai final yang digelar di Stadion Manahan Solo,
Dalam catatan kearsipan pengurus, Persatuan Sepakbola Indonesia Kediri (Persik) berdiri pada tahun 1950, pada tanggal 9 Mei. Sebagai pendiri adalah Bupati Kediri saat itu, R Muhammad Machin. Karena saat itu Kediri masih berupa kabupaten, tidak ada pemisahan wilayah seperti sekarang, kabupaten dan kota. Dibantu Kusni dan Liem Giok Djie, yang dilakukan Machin pertama kali adalah merancang bendera tim yang tersusun dari dua warna berbeda. Bagian atas berwarna merah dan bawahnya hitam dengan tulisan PERSIK di tengah-tengah dua warna berbeda itu. Sebagai tim perserikatan yang terdaftar di PSSI, Persik memiliki beberapa klub anggota, diantaranya PSAD, POP, Dhoho, Radio, dan Indonesia Muda (IM). Dalam tiga dekade (1960 hingga 1990-an) prestasi Persik belumlah menonjol bahkan di tingkat nasional pun masih kalah dibandingkan dengan “saudara mudanya” Persedikab Kabupaten Kediri yang pada era 1990-an tercatat dua kali mengikuti kompetisi Ligina. Namun sejak ditangani Walikota Drs. H. A. Maschut, Persik menunjukkan perubahan. Mengawali debutnya di pentas nasional, Persik merekrut mantan pelatih Tim Nasional PSSI Pra Piala Dunia (PPD) 1986, Sinyo Aliandoe, untuk menangani klub kebanggaan warga Kota Kediri itu dalam Kompetisi Divisi I periode 2000-2001. Di bawah tangan dingin Om Sinyo itulah, para pemain Persik yang merupakan pemain-pemain dari Kediri dan sekitarnya itu mulai diperkenalkan dengan sistem sepakbola modern. Namun hanya dalam waktu satu tahun Om Sinyo berlabuh di Kota Kediri . Setelah itu Persik pun resmi ditangani mantan pemain Timnas PSSI, Jaya Hartono, yang sebelumnya hanyalah asisten Om Sinyo.
Sementara untuk semua urusan baik di dalam maupun di luar stadion, H. A. Maschut meminta bantuan putra menantunya, Iwan Budianto, yang beberapa tahun sebelumnya menangani Arema Malang. Di tangan Iwan-Jaya itulah, tim berjuluk “Macan Putih” itu unjuk gigi dengan berhasil menyabet gelar juara Kompetisi Divisi I PSSI tahun 2002. Gelar tersebut sekaligus mengantarkan tim kebanggaan warga Kota Kediri itu “naik kelas” sebagai kontestan Divisi Utama dalam Ligina untuk musim kompetisi IX/2003.
Sejak kompetisi itu digelar pada bulan Januari 2003, Persik sudah mengklaim dirinya sebagai tim dari daerah yang tak sekadar “numpang lewat”. Tekad itu terpatri di dalam lubuk sanubari para pemain, sehingga dengan usaha keras dan penuh dramatis, Persik mampu mencuri perhatian publik bola di Tanah Air setelah berhasil memboyong Piala Presiden setelah mengukuhkan dirinya sebagai juara Ligina IX/2003.
Persik mampu memupuskan harapan tim-tim besar, seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang yang saat itu sangat berambisi menjadi kampiun dalam kompetisi paling bergengsi di Jagad Nusantara ini. Piala Presiden itu kembali berlabuh di Kota Kediri setelah Persik berhasil menjuarai kompetisi Divisi Utama Ligina XII/2006 setelah menyudahi perlawanan sengit PSIS Semarang dengan skor 1-0 di partai final yang digelar di Stadion Manahan Solo,
Untuk mendapatkan prestasi seperti itu tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Persik yang awalnya dipandang sebelah mata berubah menjadi tim yang lapar akan kemenangan. Ini bisa dilihat di awal-awal kompetisi LBM IX berjalan, Persik terseok-seok bahkan pernah menduduki peringkat ke-13 klasemen sementara.
Perlahan tetapi pasti, kemenangan demi kemenangan diraihnya hingga pada putaran pertama Persik sempat menempati puncak klasemen sementara. Dan di putaran kedua prestasi Pesik semakin stabil hingga kompetisi berakhir Persik sukses menjadi juara.
Dengan diperkuat tiga legiun asing asal Cile, yakni Fernando, Juan Carlos dan Alejandro Bernald, pada tahun 2002 Persik menorehkan tinta emas setelah berhasil menyabet Juara Divisi I PSSI, dimana pertandingan empat besarnya diselenggarakan di Manado. Prestasi itu memastikan Persik masuk Divisi Utama Ligina IX/2003. Namun sebelum ikut kompetisi paling bergengsi di Tanah Air itu, Persik mencatat prestasi gemilang setelah sukses merengkuh gelar juara Piala Gubernur Jatim I/2004 di Surabaya . Gelar itu kembali direbutnya pada Piala Gubernur III/2005 di Gelora Delta Sidoarjo setelah menyudahi perlawanan tim debutan Persekabpas Kabupaten Pasuruan. September 2006 lalu.
Tangan Dingin Di Balik Persik
Prestasi demi prestasi yang ditorehkan Persik, tak bisa lepas dari perjuangan dan kegigihan beberapa tokoh sepakbola Kota Kediri. Sejak tahun 1999 Walikota Drs H.A. Maschut memegang jabatan sebagai Ketua Umum. Ia dibantu J.V. Antonius Rahman yang saat itu menjabat Ketua DPRD Kota Kediri sebagai Ketua Harian Persik dan tokoh sepakbola, Barnadi sebagai Sekretaris Umum.
Namun tak bisa dilupakan pula perjuangan Iwan Budianto sebagai manajer tim untuk mengangkat citra Kota Kediri di bidang sepakbola bersama Eko Soebekti dan Suryadi, masing-masing menempati posisi asisten manajer operasional dan asisten manajer keuangan.
Untuk aristek di lapangan baik pengurus maupun manajemen saat itu mengangkat mantan pemain Niac Mitra Surabaya, Jaya Hartono dibantu mantan pemain Arema Malang, Mecky Tata bertindak selaku asisten pelatih. Nama Iwan Budianto dan Jaya Hartono sudah cukup lama dikenal oleh publik bola di tanah air. Sebelum bergabung dengan Persik, Iwan Budianto pernah menjadi manajer tim Arema Malang pada Ligina V 1998/1999. Saat itu Arema menempati peringkat ketiga grup tengah II.
Sementara Jaya Hartono sudah tidak asing lagi. Selain malang melintang sebagai pemain di beberapa klub Galatama mulai dari Niac Mitra, Petrokimia Putra, BPD Jateng, Assyabaab Salim Group Surabaya, PKT Bontang hingga karirnya di timnas PSSSI selama sepuluh tahun mulai 1986 sampai 1996. Sebagai orang yang bertangan dingin Jaya Hartono membawa Persik sebagai Juara Ligina IX/2003 bagi Persik. Namun sayang Jaya Hartono tahun 2006 meninggalkan Persik Kediri dan digantikan Daniel Rukito hingga tahun 2007. Meski hanya dua tahun Daniel juga menorehkan sejarah bagi Persik Kediri yakni membawa Persik Juara Ligina XII/2006.
Menghadapi Super Liga Persik mencoba pelatih asing asal Muldova yang cukup dikenal yakni Arcan Iurie (mantan pelatih Persib Bandung dan Persija) itupun hanya setengah kompetisi, selanjutnya Persik dibawah kendali Aji Santoso hingga akhir ISL 2008 dan menjadikan Persik dalam 5 besar (peringkat 4 ISL 2008). Memasuki ISL 2009/2010 Persik diarsiteki oleh Gusnul Yakin seiring pergantian Ketua Umum yang baru yang menggantikan HA Maschut kepada dr Samsul Ashar Sp.PD yang juga walikota terpilih dalam Pilkada 2008 lalu.
Degradasi ke kasta ke dua
Sejak dibawah kepemimpinan Dr.H Samsul Ashar, Persik terus mengalami penurunan prestasi hingga terdegradasi ke divisi utama pada akhir kompetisi Liga Super 2009-2010 hingga akhir kompetisi divisi utama tahun 2013 Persik baru bisa Promosi kembali ke Liga Super dengan menempati peringkat 3 klasemen divisi utama.
Untuk pertandingan kandang Persik menggunakan Stadion Brawijaya Kediri yang berkapasitas sekitar 20 ribu orang. Sementara untuk kegiatan manajerial Persik dipusatkan di sekretariat Persik di Jl. Diponegoro No. 7, Kediri. No. telp. dan faksimilinya adalah 0354-686690.

Home Ground

Stadion Brawijaya adalah kandang bagi Persik Kediri. Terletak tengah Kota Kediri, Jawa Timur. Stadion ini dibangun pada tahun 1983, dan mengalami pembenahan pada tahun 2000. Stadion Brawijaya memiliki kapasitas 20.000 tempat duduk. Stadion Brawijaya merupakan kebanggaan masyarakat Kediri karena di stadiun inilah Persik Kediri menjamu lawan-lawannya. Stadion ini berkapasitas 20.000 penonton, dibangun pada tahun 1983.

Pendukung

Persik didukung suporternya yang militan yaitu Persikmania yang terbentuk pada bulan Februari 2001. Seiring dengan berjalannya waktu, prestasi Persik menurun, sehingga banyak Persikmania yang mulai enggan menyaksikan laga Persik Kediri di Stadion Brawijaya. Namun banyak juga bermunculan Persikmania dari generasi berikutnya dan kemudian membikin kelompok sendiri seperti Brigata Cyber-xtreme. Motto dari Brigata Cyberxtreme adalah "s1ung tajam", yang merupakan singkatan dari "salam 1 ungu tampil atraktif juga militan" yang biasa menempati tribun utara. Selain itu ada juga yang menamai kelompoknya Hooliking, Gerakan Cinta Persik (GCP) namun tetap dalam yel yelnya mereka masih menyebut dirinya Persikmania.
== Didiskualifikasi dari peserta ISL 2015 ==
Pada 12 Desember 2014 Persik Kediri didiskualifikasi dari peserta LSI 2015 karena dinilai tidak memenuhi persyaratan baik dari segi keuangan dan infrastruktur bersama dengan Persiwa Wamena selama proses verifikasi pada bulan Desember 2014.Dan harus kembali bermain di Divisi Utama LI 2015.
Tahun Kejuaraan & Pre

Wisata Kediri

1.Monumen Simpang Lima Gumul

Hasil gambar untuk simpang lima gumul kediri
    
      Monumen Simpang Lima atau biasa disingkat SLG adalah salah satu bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Kediri yang bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris, Perancis. SLG mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, yang digagas oleh Bupati Kediri saat itu, Sutrisno.  Bangunan ini terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tepatnnya di pusat pertemuan lima jalan yang menuju ke Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten, Kediri.
Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun.. Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.
Selain sebagai ikon sebuah kota, saat ini SLG juga menjadi sentra (pusat) ekonomi dan perdagangan baru (Central Business District) di Kabupaten Kediri, sehingga diharapkan dapat membuat perekonomian Kediri semakin bertambah maju. Monumen Simpang Lima Gumul berlokasi di kawasan yang strategis dan dilengkapi dengan beragam sarana umum, seperti gedung pertemuan (convention hall), gedung serbaguna (multipupose), Bank daerah, terminal bus antar kota dan MPU (Mobil Penumpang Umum), pasar temporer (buka pada waktu-waktu tertentu) Sabtu-Minggu dan sarana rekreasi seperti wisata air Water Park Gumul Paradise Island.




2. Water Park Kediri

Hasil gambar untuk wisata water park kediri
Kediri Waterpark merupakan wisata air terbesar di Jawa Timur, resmi dibuka untuk umum sejak 18 Juni 2014. Destinasi ini sangat istimewa karena memiliki water slide terpanjang se-Asia, yakni sepanjang 206 meter di ketinggian 350 m dpl. Dengan demikian, water slide tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya warga Jawa Timur

Kediri Waterpark Family Adventures menduduki lahan seluas 6 hektar. Karena lokasinya sangat luas, pihak management menyediakan  shuttle bus untuk memudahkan mobilitas wisatawan. Sementara itu, pintu gerbang Kediri Waterpark dihiasi oleh patung Ganesha sebagai ikon 
Terletak di lereng kaki Gunung Wilis, Kediri Waterpark menawarkan perpaduan sempurna antara keindahan pemandangan gunung tropis, anak-anak sungai pegunungan, dan Salah satu wahana permainan air / waterpark dan non air terbesar di Jawa Timur.
Tepatnya di Jalan Raya Pagung, Desa Pagung, Kecamaran Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Tempat wisata ini menawarkan keindahan  gunung tropis dan anak sungai di sekitar pegunungan
Kediri sendiri merupakan kota yang dibelah oleh Sungai Brantas dan terletak di antara  lembah Gunung Wilis setinggi 2552 m dpl. Selain wisata keluarga, Kediri juga dikaruniai alam yang indah dan situs-situs bersejarah yang mendukung wisata religi. Kuliner lokal seperti soto kediri dan pecel pun juga harus dicicipi saat berada di sana


3. Gunung Kelud 

                                             Hasil gambar untuk gunung kelud
Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang tergolong aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.
Sebagaimana Gunung Merapi, Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.[1] Sejak tahun 1000 M, Kelud telah meletus lebih dari 30 kali, dengan letusan terbesar berkekuatan 5 Volcanic Explosivity Index (VEI). Letusan terakhir Gunung Kelud terjadi pada tahun 2014.
Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak sekitar tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.
Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah, yang dalam kondisi letusan dapat menghasilkan aliran lahar letusan dalam jumlah besar, dan membahayakan penduduk sekitarnya. Letusan freatik tahun 2007 memunculkan kubah lava yang semakin membesar dan menyumbat permukaan danau, sehingga danau kawah nyaris sirna, menyisakan genangan kecil seperti kubangan air. Kubah lava ini kemudian hancur pada letusan besar di awal tahun 2014.
Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

 

 4. Goa Selomangleng

                                              Hasil gambar untuk goa selomangleng
Gua Selomangleng merupakan objek wisata populer di Kotamadya Kediri yang berada di utara kota dan dilengkapi akses jalan raya yang mulus, tersedia angkutan kota dan dekat dengan universitas serta SMA Negeri di Kota Kediri. Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit (bahasa Jawa: Selo = batu, Mangleng = miring), kira-kira 40 meter dari tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup menyolok dari kejauhan.
Sepintas tidak ada yang istimewa di gua batu ini, keunikan baru terlihat begitu mendekati pintu gua. Beberapa meter dibawah mulut gua terdapat beberapa bongkahan batu yang berserakan. Sebagian diantaranya terdapat pahatan, menandakan bahwa tempat ini sudah pernah disentuh manusia. Berbagai corak relief menghiasai dinding luar gua, diantaranya ada yang berbentuk manusia.
Melongok ke dalam gua, suasana gelap gulita dan aroma dupa yang cukup menyengat datang menyambut pengunjung. Tidak heran bila ada beberapa pengunjung yang takut atau berfikir panjang sebelum memutuskan untuk memasukinya. Kesan mistis terasa kental sekali saat berada di dalamnya. Beberapa pengunjung nampak buru-buru keluar setelah tidak lama memasuki ruang karena, dikarenakan tidak kuat dengan aroma dupa yang menyengat.
Gua yang terbuat dari batuan andesit ini menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun stalagmit yang umum dijumpai pada gua-gua alam. Terdapat tiga ruangan dalam gua, dari pintu masuk kita akan tiba di ruangan utama yang tidak begitu lebar dengan sebuah pintu kecil di sisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain dari dalam gua.
Di dalam gua ini banyak sekali dijumpai relief yang menghiasi dinding gua. Diperlukan penerangan tambahan untuk bisa melihatnya dengan jelas. Saya sendiri menggunakan sinar lampu dari telepon genggam yang kebetulan bisa difungsikan sebagai lampu penerangan (senter). Pada dasar lantai banyak sekali ditemukan bunga-bunga sesajen berwarna merah dan kuning yang masih segar. Suatu pertanda bahwa tempat ini cukup sering digunakan untuk mengasingkan diri, bertapa atau tirakat bagi kalangan masyarakat tertentu.
Memasuki ruangan sebelah kiri dari pintu masuk gua, pengunjung mesti sedikit merangkak dikarenakan ukuran pintunya yang cukup kecil. Ketika mencoba memasuki ruangan tersebut, praktis cahaya yang ada semakin minim dikarenakan tidak adanya penerangan pada ruang tersebut. Ditambah ruangannya yang kecil dengan atap yang rendah sehingga kesan sempit dan sumpek mendominasi suasana dalam ruangan tersebut. Sulit kali untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut. Ketika mencoba menelusuri dinding gua dengan penerangan dari telpon genggam, barulah terlihat bahwa bagian dalam gua tersebut juga memiliki relief-relief yang senada dengan bagian luar gua.
Berbeda dengan ruang sebelah kiri gua, pada sisi kanan gua, terdapat relief pada bagain atas dari pintu masuk. Mirip dengan relief yang sering menghiasi bagian atas dari pintu masuk candi. Ruangan ini sedikit lebih lebar dari sisi kiri. Pada dinding gua, terdapat bagian yang menonjol dengan cerukan kecil dibagian bawahnya, membentuk tungku. Sebatang dupa yang masih menyala nampak berada di dalam tungku tersebut, menebarkan aroma menyengat yang memenuhi seluruh ruangan. Relief-relief yang ada masih bisa terlihat cukup jelas untuk dinikmati.
                                                                                                                                       

5. Air Terjun Dolo 

                                                   Hasil gambar untuk air terjun dolo
Air Terjun Dolo adalah salah satu tempat wisata air terjun yang terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Air terjun ini berada di bagian timur lereng Gunung Wilis (2.850 meter), yang memiliki ketinggian 125 meter dan 1800 meter di atas permukaan laut (dpl).Air terjun Dolo berjarak 4 meter dari air terjun Irenggolo yang dibatasi oleh banyak pepohonan dan hutan, yang juga masih terletak di kawasan Besuki. Debit air yang dicurahakan air terjun ini tidak terlalu deras, namun memiliki suhu air yang sangat dingin. Tumpahan air yang jatuh dari atas terbagi atas tiga bagian, mulai dari bagian yang paling tinggi sekitar 90 meter dan dibawahnya sekitar 2-5 meter. Air terjun Dolo terletak di kawasan pegunungan, sehingga selain suhu udaranya dingin, seringkali kawasan di sekitar air terjun dan akses jalan menuju ke sana tertutup oleh kabut.Air terjun Dolo bejarak kurang lebih 25 kilometer dari pusat Kota Kediri, dan dapat ditempuh 2 jam dari Pare, Kabupaten Kediri.[1][5] Untuk menuju ke air terjun Dolo, jika dari pusat Kota Kediri ke arah barat lalu melalui Pohsarang, Kecamatan Semen. Akses jalan menuju ke air terjun Dolo berliku-liku karena terletak di kawasan pegunungan. Namun pemerintah Kabupaten Kediri telah membangun sarana jalan yang lebih halus dan lebar dari sebelumnya, sehingga lebih memudahkan para pengunjung yang datang baik dari arah kota Kediri maupun dari arah Ponorogo. Setelah sampai di tempat parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Untuk mencapai lokasi air terjun Dolo, pengunjung diharuskan melewati dan menuruni ratusan hingga ribuan anak tangga yang berjarak kurang lebih 1 kilometer
           

6. Alun-Alun Kediri

                                      Hasil gambar untuk alun alun kediri  
Seperti umumnya kota di jawa, semua tata kota berpedoman system tata kota kerajaan, maka Kediri yang dulunya merupakan kerajaan Doho atau Kadiri juga memiliki alun-alun yang letaknya pas di dalam kota tepatnya di kecamatan Kota. Mungkin alun-alun Kediri sedikit unik dari pada alun-alun kota biasanya yang berbentuk tanah lega yang luas, namun di Kediri alun-alunnya lebih serupa suatu taman yang luas sekali. Letak alun – alun kota Kediri pastinya di jalan Panglima Sudirman, alun alun Kediri. Alun – alun ini mudah di temukan karena terdapat di tengah – tengah keramaian kota.Alun-alun Kediri dulunya berbentuk tanah gersang berumput serta bercokol patung warna emas ditengahnya yang tidak lain yaitu patung Mayor Bismo, pada th. 90′an dipugar jadi suatu taman yang komplit dengan arena pejalan kaki serta sentra kaki lima yang tersusun rapi disamping utaranya. Hingga yang ingin jajan makanan Kediri dapat segera singgah jajan di sana. Harganya pun cukup terjangkau, salah satunya ada bakso, rujak, mie, sate, gado-gado, soto dsb.
Jika waktu siang alun-alun kota Kediri akan tampak sangatlah sepi serta panas, tetapi jika malam terlebih waktu malam minggu yaitu waktu paling rame serta pasar tumpah nampak penuhi semua alun-alun. Tidak heran bila alun-alun Kediri jadikan tempat nongkrong ataupun hiburan keluarga utama di kota Kediri serta sekitarnya, mengingat tempatnya yang strategis, rame, asik serta fasilitasnya cukup ideal untuk mencari hiburan. Jika minggu pagi, maka di sana jadi tempat utama beberapa pejoging ataupun sebatas refreshing pada pagi hari untuk warga Kediri yang ingin berwisata di Tempat Wisata di Kediri